Sabtu, 28 Desember 2013

Perjuangan dan Harapan Pengrajin Ikan Asin


(Foto: Fitria Anggraini)
Aceh merupakan wilayah yang memiliki garis pantai terpanjang di Sumatera. Sehingga sumber daya laut dan pesisirnya juga melimpah. Tidak heran jika banyak orang yang memilih menjadi nelayan sebagai mata pencarian. Lepung desa di kecamatan Aceh Besar adalah salah satu yang memanfaatkan hasil laut yaitu ikan menjadi olahan ikan asin.
Pengolahan hingga penjualan ikan asin di Lepung dilakukan oleh sekelompok perempuan. Mereka terhimpun dalam sebuah koperasi desa yang diberi nama Koperasi Setia Bakti Wanita.
“Walau kami terhimpun di dalam koperasi, tapi usaha membuat dan jualan ikan asin yang kami lakukan perorangan. Kalau ada masalah dalam pendanaan atau lagi terjepit keuangan baru kami minta bantuan ke koperasi,” Terang Sinta seorang pengrajin ikan asin.
Sinta yang memiliki satu orang anak ini, mengawali profesi sebagai pengrajin ikan asin dari ajakan suaminya. “Penghasilan suami melaut nggak cukup sama sekali, jadi suami tanyak ke saya mau nggak jualan ikan asin. Saya bilang mau, terus kami putusin untuk jualan ikan asin. Tapi ya masih kecil-kecilan kayak gini,” kenangnya.
Saat ditanyai mengenai proses pembuatan ikan asin, Sinta menjelaskan dengan sangat antusias. “Pertama proses pembelian ikan, kemuadian baru proses pengolahan ikannnya,” tuturnya.
Tambahnya, saat melakukan pengolahan ikan maka harus dilakukan pembersihan terlebih dahulu, beda ikannnya juga beda cara pengolahannya. Kalau ikan yang kecil misalnya ikan teri langsung cuci pakai air laut dan kemudian langsung dijemur. “Sedangkan ikan yang besar seperti ikan pedah harus dibelah dulu, bersikan darahnya, baru proses perendaman. Ikan direndam sampai darahnya bersih, selanjutnya proses penggaraman selama satu malam, besoknya di cuci baru kita jemur, kalau udah kering baru dijual. Itu pun masih harus dijaga biar nggak datang lalat dan bertelur, bisa berulat ikan asinnya. Karena ikan asin kami nggak pakai pengawet jadi harus dijaga,” ungkapnya.
Aktivitas berjualan dilakukan Sinta secara bergantian dengan suaminya. Setiap hari Sinta dan anaknya berangkat berjualan pukul 07.00-18.00 wib, sedangkan suaminya pergi melaut. Sorenya baru suaminya yang akan berjualan dari pukul 18.00-03.00 wib.
Jam jualan yang padat, juga belum bisa menjanjikan mendapatkan pendapatan yang banyak. Hasil penjualan Sinta kerap kali masih tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. “Nggak pasti dapetnya berapa, kadang dapet 35.000 ribu, 15.000 ribu bahkan pernah nggak laku selama dua minggu,” jelasnya.
Banyak hambatan yang dialami sinta selama menjadi pengrajin ikan asin. Sinta dan suaminya sering kali mengalami kesulitan dalam modal. “Memang betul ikan di sini boleh hutang dulu, tapi hari kamis harus bayar, dan nggak boleh kalau nggak bayar,” tutur Sinta sedih.
“Dari segi peralatan kami juga nggak memadai. Alat penjemur ikan asin nggak ada, jadi saya nggak bisa jemur ikan banyak-banyak. Itulah sebabnya saya nggak jualan ke Banda Aceh, untuk berjualan ke Banda Aceh saya harus membeli ikan minimal lima keranjang, sedangkan saya biasanya cuma dua keranjang saja. Kalau sedikit kita bawak jauh-jauh sampai Banda Aceh bakal rugi aja,”
Dalam pemasaran Sinta juga mengatakan sangat sulit. Promosi yang dilakukan hanya dari mulut ke mulut saja. Hamida ketua Koperasi Setia Bakti Wanita juga menyampaikan bahwa kendala mereka yaitu dalam pemasaran. “Jadi kami pernah kirim barang ke medan dan waktu kirim ke sana kami tidak tau menau berapa harga di pasaran. Kami cuma kirim-kirim aja dulu, jadinya kami sering kali rugi,” aku Hamida.
“Pemerintah kurang memperhatikan kami. Saya dengar dari dinas, pemerintah menginginkan pengusaha Aceh itu bisa maju, agar tidak kalah dengan pengusaha dari luar negeri. Karena di tahun 2015 banyak pesaing dari luar negeri mau masuk ke Aceh. Tapi kenapa pengusaha Aceh tidak di beri bekal, kami kan calon pengusaha juga walaupun cuma usaha rumah tangga,” cerita Sinta.
Kedepannya Sinta berharap pemerintah tidak hanya sekedar memberi pelatihan saja tapi juga bantuan. “Ada kami dikasih pelatihan, siap pelatihan ya sudah di tinggal, nggak kenal lagi,” terangnya.
“Pemerintah harus lebih tepat dalam memberi bantuan. Saya udah banyak buat proposal ke Dinas Perikanan, Disperindag juga tapi satupun nggak ada yang berhasil. Ntah kenapa, mungkin karena nggak ada kenal orang dalam. Karena saya liat ada yang keluar proposal di Dinas Perikanan tapi dia nggak jualan ikan asin, cuma merek doang,” tutup Sinta
Penulis: Fitria Anggraini
Nim: 1010102010156

0 komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *