![]() |
| (Foto: Fitria Anggraini) |
Aceh merupakan
wilayah yang memiliki garis pantai terpanjang di Sumatera. Sehingga sumber daya
laut dan pesisirnya juga melimpah. Tidak heran jika banyak orang yang memilih
menjadi nelayan sebagai mata pencarian. Lepung desa di kecamatan Aceh Besar adalah
salah satu yang memanfaatkan hasil laut yaitu ikan menjadi olahan ikan asin.
Pengolahan hingga
penjualan ikan asin di Lepung dilakukan oleh sekelompok perempuan. Mereka
terhimpun dalam sebuah koperasi desa yang diberi nama Koperasi Setia Bakti
Wanita.
“Walau kami terhimpun di dalam
koperasi, tapi usaha membuat dan jualan ikan asin yang kami lakukan perorangan.
Kalau ada masalah dalam pendanaan atau lagi terjepit keuangan baru kami minta
bantuan ke koperasi,” Terang Sinta seorang pengrajin ikan asin.
Sinta
yang memiliki satu orang anak ini, mengawali profesi sebagai pengrajin ikan
asin dari ajakan suaminya. “Penghasilan suami melaut nggak cukup sama sekali, jadi suami tanyak ke saya mau nggak jualan ikan asin. Saya bilang mau,
terus kami putusin untuk jualan ikan asin. Tapi ya masih kecil-kecilan kayak
gini,” kenangnya.
Saat ditanyai mengenai proses
pembuatan ikan asin, Sinta menjelaskan dengan sangat antusias. “Pertama proses
pembelian ikan, kemuadian baru proses pengolahan ikannnya,” tuturnya.
Tambahnya, saat melakukan
pengolahan ikan maka harus dilakukan pembersihan terlebih dahulu, beda ikannnya
juga beda cara pengolahannya. Kalau ikan yang kecil misalnya ikan teri langsung
cuci pakai air laut dan kemudian langsung dijemur. “Sedangkan ikan yang besar seperti
ikan pedah harus dibelah dulu, bersikan darahnya, baru proses perendaman. Ikan
direndam sampai darahnya bersih, selanjutnya proses penggaraman selama satu
malam, besoknya di cuci baru kita jemur, kalau udah kering baru dijual. Itu pun masih harus dijaga biar nggak datang lalat dan bertelur, bisa berulat
ikan asinnya. Karena ikan asin kami nggak pakai pengawet jadi harus dijaga,”
ungkapnya.
Aktivitas berjualan dilakukan Sinta
secara bergantian dengan suaminya. Setiap hari Sinta dan anaknya berangkat
berjualan pukul 07.00-18.00 wib, sedangkan suaminya pergi melaut. Sorenya baru
suaminya yang akan berjualan dari pukul 18.00-03.00 wib.
Jam jualan yang padat, juga belum
bisa menjanjikan mendapatkan pendapatan yang banyak. Hasil penjualan Sinta
kerap kali masih tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka.
“Nggak pasti dapetnya berapa, kadang dapet 35.000 ribu, 15.000 ribu bahkan
pernah nggak laku selama dua minggu,” jelasnya.
Banyak hambatan yang dialami sinta
selama menjadi pengrajin ikan asin. Sinta dan suaminya sering kali mengalami
kesulitan dalam modal. “Memang betul ikan di sini boleh hutang dulu, tapi hari
kamis harus bayar, dan nggak boleh kalau nggak bayar,” tutur Sinta sedih.
“Dari segi peralatan kami juga nggak memadai. Alat penjemur ikan asin
nggak ada, jadi saya nggak bisa jemur
ikan banyak-banyak. Itulah sebabnya saya nggak
jualan ke Banda Aceh, untuk berjualan ke Banda Aceh saya harus membeli ikan
minimal lima keranjang, sedangkan saya biasanya cuma dua keranjang saja. Kalau
sedikit kita bawak jauh-jauh sampai Banda Aceh bakal rugi aja,”
Dalam pemasaran Sinta juga mengatakan
sangat sulit. Promosi yang dilakukan hanya dari mulut ke mulut saja. Hamida
ketua Koperasi Setia Bakti Wanita juga menyampaikan bahwa kendala mereka yaitu
dalam pemasaran. “Jadi kami pernah kirim barang ke medan dan waktu kirim ke sana
kami tidak tau menau berapa harga di pasaran.
Kami cuma kirim-kirim aja dulu, jadinya
kami sering kali rugi,” aku Hamida.
“Pemerintah kurang memperhatikan
kami. Saya dengar dari dinas, pemerintah menginginkan pengusaha Aceh itu bisa
maju, agar tidak kalah dengan pengusaha dari luar negeri. Karena di tahun 2015
banyak pesaing dari luar negeri mau masuk ke Aceh. Tapi kenapa pengusaha Aceh
tidak di beri bekal, kami kan calon
pengusaha juga walaupun cuma usaha rumah tangga,” cerita Sinta.
Kedepannya Sinta berharap
pemerintah tidak hanya sekedar memberi pelatihan saja tapi juga bantuan. “Ada
kami dikasih pelatihan, siap pelatihan ya sudah di tinggal, nggak kenal lagi,”
terangnya.
“Pemerintah harus lebih tepat dalam
memberi bantuan. Saya udah banyak buat proposal ke Dinas Perikanan,
Disperindag juga tapi satupun nggak
ada yang berhasil. Ntah kenapa,
mungkin karena nggak ada kenal orang
dalam. Karena saya liat ada yang keluar proposal di Dinas Perikanan tapi dia
nggak jualan ikan asin, cuma merek doang,”
tutup Sinta
Penulis: Fitria Anggraini
Nim: 1010102010156
|


0 komentar:
Posting Komentar