Karya: Robiatul Adawiyah
Begitu cepat waktu berlalu
Tak terasa perjumpaan ku sudah berlalu
Sangat cepat ,Sangat menyesal ,Sangat kecewa
Teringat dalam Memori yang lalu
Menangis mengingat masa-masa yang lalu
Melukiskan canda tawa & kebahagiaan bersamamu
Sepanjang waktu berlalu
Kenapa kami baru menaruh perhatian pada Guru
Saat Guru tetah tiada
Karena di panggil oleh Sang Maha Kuasa
Begitu kejamnya kami melupakan jasa mu
Maafkan kami guru
Yang telah menggoreskan tinta hitam,di dalam hidupmu
Andaikan waktu dapat terulang
Kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagimu
Tangisan kami hanya untukmu
Saat kami tak mengerti,
Guru yang akan menjelaskannya
Saat kami membuat kesalahan,
Guru yang menasihatinya
Saat kami mengingatmu,
Kau telah tiada
Jasamu kan abadi bersemayam di hati kami
Begitu besar perhatianmu pada kami
Yang selama ini menyusahkanmu
Hanya kata TERIMA KASIH & MAAF untuk Mu
Tak terasa perjumpaan ku sudah berlalu
Sangat cepat ,Sangat menyesal ,Sangat kecewa
Teringat dalam Memori yang lalu
Menangis mengingat masa-masa yang lalu
Melukiskan canda tawa & kebahagiaan bersamamu
Sepanjang waktu berlalu
Kenapa kami baru menaruh perhatian pada Guru
Saat Guru tetah tiada
Karena di panggil oleh Sang Maha Kuasa
Begitu kejamnya kami melupakan jasa mu
Maafkan kami guru
Yang telah menggoreskan tinta hitam,di dalam hidupmu
Andaikan waktu dapat terulang
Kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagimu
Tangisan kami hanya untukmu
Saat kami tak mengerti,
Guru yang akan menjelaskannya
Saat kami membuat kesalahan,
Guru yang menasihatinya
Saat kami mengingatmu,
Kau telah tiada
Jasamu kan abadi bersemayam di hati kami
Begitu besar perhatianmu pada kami
Yang selama ini menyusahkanmu
Hanya kata TERIMA KASIH & MAAF untuk Mu
Kritik pada puisi:
Ada beberapa tahap dalam pengkritikan puisi yaitu :
Tahap deskripsi
Pada tahap ini
sebuah karya sastra (puisi) di kritik dengan melihat unsur intrinsik karya
sastra. Tema yang terdapat dalam puisi ini adalah tentang pendidikan. Yaitu
terjadi pada pagi hari bertempat di pemakaman seorang guru. Dalam puisi ini
menggambarkan dua tokoh penting, yaitu seorang guru berperan sebagai tokoh
utama dan seorang murid yang menyesali tindakan yang pernah dilakukan oleh
murid tersebut. Rima yang digunakan dalam puisi ini adalah rima terbuka yaitu
persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vocal yang
sama. Puisi ini mempunyai kata-kata berdenotasi (makna yang sebenarnya). Majas
yang digunakan dalam puisi ini adalah majas metafora, yakni pengungkapan yang
mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain
selain makna sebenarnya. Makna yang dimaksud adalah kesedihan.
Tahap penafsiran
Tahap pada
penafsiran ini adalah menafsirkan makna dari puisi tersebut. Dalam puisi yang
berjudul “Waktu yang kusesali” di sini menceritakan tentang penyesalan seorang
murid karena mengingat kejadian masa lalu betapa menyesalnya dia sebagai murid
tidak pernah menghargai jasa gurunya yang telah berbuat baik kepada dirinya,
mengingat betapa sedihnya pada saat dia berbuat kesalahan sang guru dengan
berbaik hati menasihat dia. Dan selalu memaafkan segala kenakalan-kenakalan
yang pernah diperbuat. Pada saat gurunya telah tiada, dia baru sadar bahwa dia
benar-benar menyesal akan kelakuannya kepada guru.
Tahap Evaluasi
pada tahap ini
pengkritik menentukan kelebihan dan kekurangan dari puisi ini :
- Kebihan
Puisi ini
tidak sekedar sebuah imajinasi penyair tetapi lebih mengangkat sebuah realita
yang dialaminya sendiri. Kata-katanya mudah dimengerti sehingga siapa pun yang
membaca puisi ini akan mudah memahami maksud penulis tentang penyesalannya
terhadap gurunya. Jenis puisi ini adalah elegi, puisi ini mengungkapkan rasa
sedih dan kedukaan seseorang.
- Kekurangan
banyak terjadi kesalahan EYD pada penulisan. Seperti pada
saat penulisan ‘Guru’ dan ‘Memori’ memakai huruf kapital dan penggunaan kat
‘MU’ yang sahrusnya ditujukan untuk Tuhan tetapi ditujukan untuk guru.
Penulis: Haviz
Nim: 1010102020026
|


0 komentar:
Posting Komentar