Jumat, 03 Januari 2014

Cinta Bangsa dalam Hati


Tulisan yang saya buat ini sama sekali tidak bermaksud untuk mempropagandakan pihak tertentu dan untuk tidak untuk sebuah kepentingan tertentu pula. Saya hanya ingin menulis tulisan yang fungsinya sebagai pembelajaran terhadap diri sendiri dalam memaknai kehidupan masyarakat bernegara, barangkali tulisan saya ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman pembaca untuk belajar, tapi kalau saja bagi teman-teman tulisan ini tidak bisa memberi pengaruh apapun, apalagi untuk menjadi sebuah pembelajaran saya harap dapat dimaklumi, karena saya sendiri bukanlah seorang penulis yang memiliki fikiran besar.


Dalam kesempatan menghadiri sebuah mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang diizinkan oleh Allah Subhana Wata’ala sehingga berlangsungnya kegiatan belajar mengajar tersebut, dosen pembimbing pelajaran bertanya kepada seluruh mahasiswa sebagai pembuka petemuan kali ini “Apakah kalian cinta bangsa ini?” tanpa harus berfikir panjang saya menjawab “Ya” tetapi dalam hati, karena tanpa perlu mengeluarkan suara dosen pasti sudah tau bahwasanya murid-murid pasti cinta bangsa ini, itu menurut saya. Tetapi ternyata tidak, ada beberapa mahasiswa yang menjawab dengan lantangnya bahwasanya mereka tidak cinta bangsa ini, “Lalu kenapa mereka tidak cinta?” Itu pertanyaan saya dalam hati. Tidak lama setelah itu pertanyaan saya yang dalam hati tadi ditanyakan kembali oleh dosen pembimbing kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, “Kenapa kalian tidak cinta bangsa ini?” dan bagi sebagian yang lain dosen pun bertanya “Kenapa kalian cinta bangsa ini?”
Saya pak! Jawab seorang mahasiswi menutup keheningan setelah dosen bertanya. “Saya cinta bangsa ini, tetapi saya tidak tahu kenapa saya cinta” begitu katanya. Saya hanya tersenyum dan kembali berbicara didalam hati “Ya bagus, karena bagi saya cinta saja sudah cukup untuk mengungkapkan segalanya.” Kalau saya bisa menjawab “Keanekaragaman hayati dan keindahan alam dibangsa kita ini yang membuat saya cinta bangsa ini” tapi sayang saya hanya bisa berbicara didalam hati. Tidak lama kemudian seorang mahasiswa yang tidak cinta bangsa pun ingin menjelaskan pendapatnya kenapa ia tidak cinta bangsa ini. Sebelumnya saya merasa bingung kenapa mahasiswa tersebut tidak cinta bangsa ini. Padahal saya tahu, mungkin bukan hanya saya saja yang tahu, bahwa dia adalah mahasiswa yang pintar dan pandai berbicara, setiap pertanyaan dosen dia selalu menjawab, setiap dosen menjawab dia selalu bertanya.
Saya tidak cinta bangsa ini pak! Bagaimana saya mau mencintai bangsa ini sedangkan pemerintahnya saja tidak becus, korupsi disana sini, penegakan keadilan masih lemah, dan banyak hal lain yang saya tidak suka, jadi untuk apa saya mencintai bangsa ini!” tutup mahasiswa tersebut dengan jawaban yang dia yakinkan benar atas pemikirannya. Mendengar jawaban teman tersebut saya hanya tersenyum dan masih berbicara didalam hati bahwa pendapat dia salah. Karena saya memang bukan tipe mahasiswa yang gemar berbicara saya meminta selembar kertas milik teman yang duduk di sebelah saya, lalu saya menuliskan sedikit kata-kata untuk menjelaskan pendapat seorang teman saya tadi yang menurut saya sudah salah aliran. Selagi saya menulis pendapat saya tentang jawaban untuk masalah ini, dosen kembali bertanya kepada seluruh mahasiswa, “Apa ada yang bisa membantu untuk menjelaskan masalah ini??”.
10 menit lamanya setelah dosen bertanya, tidak satupun mahasiswa berani menjelaskan tentang hal ini untuk meluruskan pendapat seorang teman tadi, ya..karena bukan hanya saya saja yang tahu bahkan mahasiswa lain pun tahu bahwa teman tersebut adalah orang pintar. Agar tidak berlarut-larut didalam keheningan dosen pun menjawab tentang pertanyaannya di awal pelajaran tadi, “Kita seharusnya cinta bangsa ini, karena bangsa kita ini adalah bangsa yang besar, terdiri dari berbagai macam suku bangsa disini, ada berbagai macam khas budaya disini, ada berbagai macam bahasa dibangsa kita ini, dan banyak hal-hal lain yang bisa kita kagumi untuk mencintai bangsa ini. Bagi yang tidak cinta bangsa ini seharusnya kalian harus lebih mengerti bangsa agar dapat mencintainya.” Tutup dosen menjelaskan penjelasannya.
Mahasiswa tadi seperti tidak setuju dengan pendapat dosen, dia lalu membantah pernyataan dosen tersebut yang dianggap tidak sepaham dengannya, setiap kali dosen bertanya dia pun bertanya lagi, setiap dosen menjawab diapun menjawab lagi. Sampai dengan menjelang berakhirnya waktu untuk kegiatan belajar mengajar ini, dosen seperti kehabisan akal untuk menjelaskan pendapat mahasiswa tersebut, “Baiklah kita lanjutkan ini minggu depan..” tutup dosen untuk mengakhiri kuliah hari ini dan juga mengakhiri perdebatannya dengan mahasiswa tersebut.
Saat saya ingin keluar dari ruangan belajar mengajar dosen memanggil saya, lalu dia berkata “Apa yang dibilang laki-laki itu?” dosen bertanya sambil bercanda bermaksud untuk menyindir teman tadi secara diam-diam, atau mungkin untuk melepaskan penat dalam fikirannya. Saya hanya bisa tersenyum dan saya menjawab "Diakan pintar pak, untuk apa bapak tanya sama saya?". Karena tidak mau berlama-lama dikampus saya lalu meminta izin kepada dosen dan langsung meninggalkan area kampus.
Sampai dengan ditulisnya tulisan ini, jawaban saya tentang penjelasan untuk seorang teman tadi saya tulis diselembar kertas yang selembar kertas itu saya minta dari seorang teman tadi dan saya yakin jawaban saya benar, tetapi masih atas pemikiran saya saja.”
“UNTUK MENCINTAI SEBUAH BANGSA, ANDA TIDAK PERLU PERCAYA PEMERINTAHANNYA, TAPI PERCAYA SAJA PADA BANGSANYA..!!”


Penulis: Rizki
Nim: 0910102010050


0 komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *