Tulisan
yang saya buat ini sama sekali tidak bermaksud untuk mempropagandakan pihak
tertentu dan untuk tidak untuk sebuah kepentingan tertentu pula. Saya hanya
ingin menulis tulisan yang fungsinya sebagai pembelajaran terhadap diri sendiri
dalam memaknai kehidupan masyarakat bernegara, barangkali tulisan saya ini juga
bisa menjadi pembelajaran bagi teman-teman pembaca untuk belajar, tapi kalau
saja bagi teman-teman tulisan ini tidak bisa memberi pengaruh apapun, apalagi
untuk menjadi sebuah pembelajaran saya harap dapat dimaklumi, karena saya
sendiri bukanlah seorang penulis yang memiliki fikiran besar.
Dalam kesempatan menghadiri sebuah mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang diizinkan oleh Allah Subhana Wata’ala sehingga berlangsungnya kegiatan belajar mengajar tersebut, dosen pembimbing pelajaran bertanya kepada seluruh mahasiswa sebagai pembuka petemuan kali ini “Apakah kalian cinta bangsa ini?” tanpa harus berfikir panjang saya menjawab “Ya” tetapi dalam hati, karena tanpa perlu mengeluarkan suara dosen pasti sudah tau bahwasanya murid-murid pasti cinta bangsa ini, itu menurut saya. Tetapi ternyata tidak, ada beberapa mahasiswa yang menjawab dengan lantangnya bahwasanya mereka tidak cinta bangsa ini, “Lalu kenapa mereka tidak cinta?” Itu pertanyaan saya dalam hati. Tidak lama setelah itu pertanyaan saya yang dalam hati tadi ditanyakan kembali oleh dosen pembimbing kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, “Kenapa kalian tidak cinta bangsa ini?” dan bagi sebagian yang lain dosen pun bertanya “Kenapa kalian cinta bangsa ini?”
Dalam kesempatan menghadiri sebuah mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang diizinkan oleh Allah Subhana Wata’ala sehingga berlangsungnya kegiatan belajar mengajar tersebut, dosen pembimbing pelajaran bertanya kepada seluruh mahasiswa sebagai pembuka petemuan kali ini “Apakah kalian cinta bangsa ini?” tanpa harus berfikir panjang saya menjawab “Ya” tetapi dalam hati, karena tanpa perlu mengeluarkan suara dosen pasti sudah tau bahwasanya murid-murid pasti cinta bangsa ini, itu menurut saya. Tetapi ternyata tidak, ada beberapa mahasiswa yang menjawab dengan lantangnya bahwasanya mereka tidak cinta bangsa ini, “Lalu kenapa mereka tidak cinta?” Itu pertanyaan saya dalam hati. Tidak lama setelah itu pertanyaan saya yang dalam hati tadi ditanyakan kembali oleh dosen pembimbing kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, “Kenapa kalian tidak cinta bangsa ini?” dan bagi sebagian yang lain dosen pun bertanya “Kenapa kalian cinta bangsa ini?”
Saya pak! Jawab seorang mahasiswi menutup
keheningan setelah dosen bertanya. “Saya cinta bangsa ini, tetapi saya tidak
tahu kenapa saya cinta” begitu katanya. Saya hanya tersenyum dan kembali
berbicara didalam hati “Ya bagus, karena bagi saya cinta saja sudah cukup untuk
mengungkapkan segalanya.” Kalau saya bisa menjawab “Keanekaragaman hayati dan
keindahan alam dibangsa kita ini yang membuat saya cinta bangsa ini” tapi
sayang saya hanya bisa berbicara didalam hati. Tidak lama kemudian seorang
mahasiswa yang tidak cinta bangsa pun ingin menjelaskan pendapatnya kenapa ia
tidak cinta bangsa ini. Sebelumnya saya merasa bingung kenapa mahasiswa
tersebut tidak cinta bangsa ini. Padahal saya tahu, mungkin bukan hanya saya
saja yang tahu, bahwa dia adalah mahasiswa yang pintar dan pandai berbicara,
setiap pertanyaan dosen dia selalu menjawab, setiap dosen menjawab dia selalu
bertanya.
Saya
tidak cinta bangsa ini pak! Bagaimana saya mau mencintai bangsa ini sedangkan
pemerintahnya saja tidak becus, korupsi disana sini, penegakan keadilan masih
lemah, dan banyak hal lain yang saya tidak suka, jadi untuk apa saya mencintai
bangsa ini!” tutup mahasiswa tersebut dengan jawaban yang dia yakinkan benar
atas pemikirannya. Mendengar jawaban teman tersebut saya hanya tersenyum dan
masih berbicara didalam hati bahwa pendapat dia salah. Karena saya memang bukan
tipe mahasiswa yang gemar berbicara saya meminta selembar kertas milik teman
yang duduk di sebelah saya, lalu saya menuliskan sedikit kata-kata untuk
menjelaskan pendapat seorang teman saya tadi yang menurut saya sudah salah
aliran. Selagi saya menulis pendapat saya tentang jawaban untuk masalah ini,
dosen kembali bertanya kepada seluruh mahasiswa, “Apa ada yang bisa membantu
untuk menjelaskan masalah ini??”.
10
menit lamanya setelah dosen bertanya, tidak satupun mahasiswa berani
menjelaskan tentang hal ini untuk meluruskan pendapat seorang teman tadi, ya..karena
bukan hanya saya saja yang tahu bahkan mahasiswa lain pun tahu bahwa teman
tersebut adalah orang pintar. Agar tidak berlarut-larut didalam keheningan
dosen pun menjawab tentang pertanyaannya di awal pelajaran tadi, “Kita
seharusnya cinta bangsa ini, karena bangsa kita ini adalah bangsa yang besar,
terdiri dari berbagai macam suku bangsa disini, ada berbagai macam khas budaya
disini, ada berbagai macam bahasa dibangsa kita ini, dan banyak hal-hal lain
yang bisa kita kagumi untuk mencintai bangsa ini. Bagi yang tidak cinta bangsa
ini seharusnya kalian harus lebih mengerti bangsa agar dapat mencintainya.”
Tutup dosen menjelaskan penjelasannya.
Mahasiswa
tadi seperti tidak setuju dengan pendapat dosen, dia lalu membantah pernyataan
dosen tersebut yang dianggap tidak sepaham dengannya, setiap kali dosen
bertanya dia pun bertanya lagi, setiap dosen menjawab diapun menjawab lagi.
Sampai dengan menjelang berakhirnya waktu untuk kegiatan belajar mengajar ini,
dosen seperti kehabisan akal untuk menjelaskan pendapat mahasiswa tersebut,
“Baiklah kita lanjutkan ini minggu depan..” tutup dosen untuk mengakhiri kuliah
hari ini dan juga mengakhiri perdebatannya dengan mahasiswa tersebut.
Saat
saya ingin keluar dari ruangan belajar mengajar dosen memanggil saya, lalu dia
berkata “Apa yang dibilang laki-laki itu?” dosen bertanya sambil bercanda
bermaksud untuk menyindir teman tadi secara diam-diam, atau mungkin untuk
melepaskan penat dalam fikirannya. Saya hanya bisa tersenyum dan saya menjawab
"Diakan pintar pak, untuk apa bapak tanya sama saya?". Karena tidak
mau berlama-lama dikampus saya lalu meminta izin kepada dosen dan langsung
meninggalkan area kampus.
Sampai
dengan ditulisnya tulisan ini, jawaban saya tentang penjelasan untuk seorang
teman tadi saya tulis diselembar kertas yang selembar kertas itu saya minta
dari seorang teman tadi dan saya yakin jawaban saya benar, tetapi masih atas
pemikiran saya saja.”
“UNTUK
MENCINTAI SEBUAH BANGSA, ANDA TIDAK PERLU PERCAYA PEMERINTAHANNYA, TAPI PERCAYA
SAJA PADA BANGSANYA..!!”
![]() |
Penulis: Rizki
Nim: 0910102010050
|



0 komentar:
Posting Komentar