Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam ketika kami untuk
pertama kalinya tiba di Banda Aceh. Perjalanan 12 jam dengan mobil kami tempuh
dari kota Medan terasa cukup melelahkan. aku terkejut melihat suasana yang
masih ramai di kota Banda Aceh ini walaupun waktu telah beranjak larut. Pusat
kota masih dipenuhi oleh kalangan pemuda dan bapak-bapak, terlebih lagi yang
sedang bersenda gurau di warung-warung kopi yang menjamur di sepenjuru kota.
Daerah Aceh tidak bisa dipisahkan dari kopi. Siapa saja
yang datang ke Aceh rasanya belum afdal apabila belum menikmati sedikitnya
segelas kopi layaknya masyarakat setempat. Jadi kami merasa perlu membuktikan
kelezatan kopi Aceh yang telah tersebar kabar kenikmatannya seantero nusantara.
Aceh layak disebut dengan julukan daerah "sejuta warung kopi", karena, sangat mudah menjumpai warung kopi di Aceh, mulai dari pusat kota hingga di pelosok desa. Smeuanya beragam dan sangat manarik untuk di kunjungi. Kami menjoba mendatangi salah satu warung kopi yang tersohor di kota ini namanya warung kopi Solong. Letaknya cukup strategis berada di pinggiran kota Banda Aceh. Pelayanan yang ditawarkan juga sangat mengesankan mulai dari pelayannya hingga ketertiban penataan interior ruangan tertata rapi.
Tidak perlu menunggu lama untuk memesan kopi di sini.
Hanya berselang beberapa menit kopi yang kita pesan sudah disajikan oleh
pramusaji yang cukup cekatan. Aroma kopi cukup khas tercium di hidung saya.
Yang membuat saya ingin cepat-cepat menikmatinya.
Pertumbuhan warung kopi, yang belakangan ini juga
menggunakan nama kafe (cafe), di Aceh terus meningkat. Para pengusaha
sepertinya tidak ragu untuk menginvestasikan uangnya dalam jumlah besar guna
membuka warung kopi, karena konsumennya cukup besar. Sepengamatan saya selama
berada di kota Banda Aceh, hamir tidak ada waruung kopi atau cafe yang sepi di
sepanjang jalan-jalan kota. Semuanya pasti terisi mulai dari kawula muda hingga
bapak-bapak, mulai dari mahasiswa hingga ke pegawai negeri. Semuanya membaur menyatu bersama dalam canda
dan tawa sambil menikmati minuman yang di suguhkan.
Hampir sebagian besar laki-laki di Aceh minum kopi di
warung, sehingga warkop di Aceh jarang sepi, mulai pagi sampai malam hari.
Bahkan ada warung kopi yang buka 24 jam. Walaupun begitu tetap saja ada
pengunjungnya.
Sebahagian warung kopi di aceh tidak hanya menyediakan kopi untuk dinikmati oleh pengunjung selama berada di warung kopi tersebut saja. Akan tetapi mereka juga menyediakan kopi bubuk yang telah dikemas dengan rapi untuk dijadikan oleh-oleh bagi pengunjung yang berasal dari luar daerah seperti saya. Bahkan mereka juga memberika sovenir kepada pengunjung baru berupa stiker dan gantungan kunci bagi kami pengunjung baru. Hal itu terjadi seperti di warung kopi solong yang kami kunjungi.
Sebahagian warung kopi di aceh tidak hanya menyediakan kopi untuk dinikmati oleh pengunjung selama berada di warung kopi tersebut saja. Akan tetapi mereka juga menyediakan kopi bubuk yang telah dikemas dengan rapi untuk dijadikan oleh-oleh bagi pengunjung yang berasal dari luar daerah seperti saya. Bahkan mereka juga memberika sovenir kepada pengunjung baru berupa stiker dan gantungan kunci bagi kami pengunjung baru. Hal itu terjadi seperti di warung kopi solong yang kami kunjungi.
![]() |
Penulis: Ashabul Yamin
Nim: 1010102010064
|



0 komentar:
Posting Komentar