Hijabers dan fashion di Indonesia tidak bisa lepas
dari nama seorang Dian Pelangi. Gadis yang pada usia belia ini berhasil menarik
jutaan pasang mata fashion dunia karena keunikan dan gaya desain pakainnya yang
colorful, membuat para perempuan muslim bahkan non muslim, berdecak kagum.
Begitu kreatifnya Dian Pelangi sehingga bisa membuat gaya berbusana wanita
muslim menjadi lebih modis dan lepas dari kesan kuno. Sejak Dian Pelangi
mengembangkan sayapnya di dunia mode, banyak wanita-wanita terutama di Indonesia,
tertarik untuk beralih mengenakan hijab.
Dian Wahyu Utami, atau yang saat
ini lebih akrab disebut Dian Pelangi, lahir di Palembang, 14 Januari 1991.
Gadis yang sejak kelas 5 SD sudah mengenakan jilbab ini, merupakan anak dari
keluarga yang memiliki usaha tekstil. Pada suatu ketika, ia dan keluarga hijrah
ke Pekalongan,
karena sang ayah hendak membuka pabrik tekstil di sana. Sedari kecil, orangtua Dian sudah melihat bakat anaknya dalam mendesain pakaian. Bakat tersebut terus terasah saat kemudian Dian bersekolah di SMKN 1 Pekalongan jurusan Tata Busana. Awalnya Dian tidak percaya diri dengan kemampuannya, tetapi dukungan orangtua dan kecintaannya terhadap mode terus mendorongnya untuk maju. Bahkan kemudian, pada saat usianya masih 16 tahun, ibunya menyerahkan butik batiknya kepada Dian untuk dikelola.
karena sang ayah hendak membuka pabrik tekstil di sana. Sedari kecil, orangtua Dian sudah melihat bakat anaknya dalam mendesain pakaian. Bakat tersebut terus terasah saat kemudian Dian bersekolah di SMKN 1 Pekalongan jurusan Tata Busana. Awalnya Dian tidak percaya diri dengan kemampuannya, tetapi dukungan orangtua dan kecintaannya terhadap mode terus mendorongnya untuk maju. Bahkan kemudian, pada saat usianya masih 16 tahun, ibunya menyerahkan butik batiknya kepada Dian untuk dikelola.
Setelah lulus dari SMKN 1, dia
melanjutkan studinya ke Ecole Superieure des Arts et Techniques de la
Mode (ESMOD), Jakarta dan lulus dengan nilai yang baik pada tahun 2009. Lalu ia
melanjutkan untuk belajar bahasa Arab pada tahun 2010 di Lessanul Arab, Kairo,
Mesir. Sebelum dia terkenal seperti sekarang, dia merasa resah dengan anggapan
masyarakat pada jilbab yang terkesan tua dan kuno, tidak sesuai dengan gaya
anak muda. Ia bercita-cita untuk bisa mengubah pandangan tersebut. Dengan modal
mimpinya yang kuat tersebut, ia mencoba peruntungannya dengan mengikuti Jakarta
Fashion Week pada tahun 2009.
“Dampak JFW bagus sekali. Waktu itu saya bikin
celana harem, coat, kardigan, dan lainnya. Dan dianggap trendi. Tapi saya juga
ingin menunjukkan jati diri Indonesia lewat motif tie dye atau jumputan, salah
satunya. Yang biasa saya pakai motif jumputan dari Palembang, meski dari
Kalimantan juga ada. Saya pakai pengrajin sendiri untuk membuatnya,” kenang
Dian. Setelah itu, Dian menghabiskan banyak waktu untuk berkeliling dunia dan
memamerkan rancangannya. Dalam event International Fair of The Muslim World
yang digelar di Le Bouget Paris, Perancis karyanya laris terjual. Tak hanya itu, Dian juga pernah masuk ke 25
besar dalam ajang Swarovski Crystallized Contest dan masuk 10 besar Lomba
Rancang Busan Muslim Fashion Show di acara Moslem Fashion and Gala Dinner di
Melbourne, Australia.
Sebelum terbang ke luar negeri,
Dian selalu mencari tahu terlebih dahulu tentang hal-hal yang sedang trend dan
menjadi kesukaan di negara yang akan dia kunjungi. Hal itu terbukti sangat menguntungkan sebab
ternyata di Dubai, rancangan Dian terjual habis. Pada saat itu, dia membawa
banyak kain batik berwarna hitam yang kemudian dia rancang sedemikian rupa
dengan tambahan bling-bling dari Kristal Swarovski, yang sesuai dengan selera
masyarakat Dubai.
Saat ini, karya-karya Dian Pelangi
sudah banyak dipamerkan di kota-kota besar di dunia seperti di Kuala Lumpur,
Singapura, Kairo, Pakistan, Amman, Praha, Budapest, London, Melbourne, Thailand
dan beberapa kota besar di Indonesia. Kesuksesannya di tanah air juga membuat
Gallery Dian Pelangi miliknya membuka beberapa cabang di Indonesia, harga
rancangannya dibandrol mulai dari 800 ribu rupiah hingga lima juta rupiah.
Dalam rancangannya, dia juga memiliki beberapa tipe seperti Dian Pelangi Kids
dan Dian Pelangi Bridal.
Dian sangat suka bermain di warna
warni yang cerah seperti Pelangi sehingga nama Dian Pelangi sangat cocok untuk
brandnya. Ia tidak pernah berhenti mengeksplorasi bakatnya dengan melihat
perkembangan fashion, ia ingin orang mengenal pakaian rancangannya bahkan tanpa
melihat label yang terpasang. Bagi Dian, busana muslim itu bukan di desain tapi
di style, begitu tuturnya. Dian benar-benar menunjukkan pada dunia bahwa busana
muslim juga bisa menjadi icon fashion dunia.
![]() |
Penulis : Maya Hervia Putri
Nim : 1010102010060
|



0 komentar:
Posting Komentar